Thursday, July 19, 2012

Makalah Akutansi

MUTIARA BEAUTY SALON
I.     Prifil Pemilik
Nama Pemilik         : Mutiara
 [Pemilik/Pengusaha]
E-mail                     : Y!: rajamesinindonesia Y!: rajamesinindonesia

Nomer HP              :
Alamat                    : Jln Dr Ratulangi, Palopo

II.  Profil Perusahaan
Nama Perusahaan   : Salon Mutiara
Jenis Usaha             : Salon
Tgl Pendirian          : 1 Januari 2010
E-mail                     :
Status Gedung       : Sewa
Jumlah Kariawan    :2 Orang
Alamat                    : Jln Dr. Ratulangi, kota Palopo

III.   Transaksi Keuangan
Salon Mutiara, yang beralamat di Jln. Dr. Ratulangi kota palopo, baru dibuka awal januari 2010,  ditempatkan di daerah Pertokoan. Sementara gedung tempat usaha dianggap menyewa. Selama bulan Januari 2010 transaksi keuangan yang dilakukan sebagai berikut:
a.       Penyetoran modal sebesar 1.000.000, oleh Nona Mutiara ketika mendirikan perusahaan Salon Mutiara
1.    Nona Mutiara menyetor modalnya sebesar Rp. 1.000.000
2.    Salon Mutiara membeli secara tunai peralatan salon seharga Rp. 200.000,
3.    Membayar uang sewa gedung untuk bulan januari sebesar Rp. 100.000,
6. Nona Mutiara memperoleh pendapatan jasa dari pelanggan selama bulan pertama, Nona Mutiara memperoleh pendapatan jasa salon sebesar Rp. 1.500.000,
8. Nona Mutiara membayar gaji pegawai sebesar Rp. 100.000, tagihan listrik dan telpon sebesar Rp. 100.000,
10. Salon Mutiara meminjam uang ke Bank sebesar Rp. 500.000,
14. Diangsur utang kepada Bank sebesar Rp. 200.000,
15. Salon Mutiara membeli peralatan Salon secara kredit sebesar Rp. 200.000,
20. Pada akhir pekan Nona Mutiara mengambil uang sebesar Rp. 1.000.000, dari perusahaan untuk keperluan pribadi
22. Perlengkapan yang terpakai selama bulan berjalan adalah sebesar Rp. 300.000,

IV.   IKHTISAR USAHA
A.    Tabelaris
AKTIVA
HUTANG
MODAL
Tgl
Kas
Piutang Usaha
Peralatan
Perlengkapan
Hutang Usaha
Hutang Bank
Modal
1
1,000,000
1,000,000
2
-200,000
200,000
3
-100,000
-100,000
6
1.500.000
1.500.000
8
-100.000
-100.000
100.000
100.000
10
500.000
500.000
14
-200.000
200.000
15
-200,000
-200.000
20
-200.000
22
300.000
-300.000
2.100.000
200.000
300.000
200.000
500.000
1.900.000
B.     Bagan Perkiraan
a.      Perkiraan Neraca
1.      Aktiva
1.1.Kas
1.2.Piutang dagang
1.3.Perlenkapan
2.      Kewajiban
2.1.Hutang dagang
2.2.Hutang bank
3.      Modal
3.1.Modal Nona Mutiara
3.2.Prive Nona Mutiara
3.3.Ikhtisa Rugi Laba
b.      Perkiraan Rugi Laba
4.      Biaya
4.1.Biaya gaji
4.2.Biaya perlengkapan
4.3.Biaya sewa
4.4.Biaya listrik
4.5.Biaya bunga
5.      Pendapatan
5.1.Pendapatan Dagang
C.    Jurnal Umum
                                               JURNAL UMUM                                 halaman 1
Tgl
Keterangan
Ref
Debit (Rp)
Kredit (Rp)
2007
Jan. 1
Kas
1.1
1.000.000
     Modal
3.1
1.000.000
2
Peralatan Salon
2.1
300.000
      Kas
1.1
300.000
3
Beban Sewa
4.3
100.000
        Kas
1.1
100.000
6
Pembelian Alat-alat salon
2.1
500.000
        Hutang Dagang
2.1
500.000
8
Kas
1.1
500.000
        Hutang Bank
4.5
500.000
10
Kas
1.1
500.000
        Pinjaman
5.1
500.000
14
Beban Gaji
4.1
100.000
         Kas
1.1
100.000
20
Kas
1.1
500.000
Piutang Dagang
1.2
500.000
        Penghasilan Dagang
5.1
1.500.0000
                                                            JURNAL UMUM                                 halaman 2
Tgl
Keterangan
Ref
Debit (Rp)
Kredit (Rp)
2007
Jan. 22
Hutang Dagang
2.1
500.000
     Kas
1.1
500.000
25
Beban Listrik
4.4
100.000
      Kas
1.1
100.000
29
Kas
1.1
500.000
         Piutang Dagang
2.1
500.000
30
Pengambilan Prive
3.2
300.000
          Kas
1.1
300.000
31
Beban Bunga
4.5
200.000
           Kas
1.1
200.000
V.      Laporan Keuangan
A.    Neraca
Kode  (No) Akun
Nama Akun
Debit
Kredit
101
Kas                          
2.100.000
102
Piutang Usaha              
150.000
107
Perlengkapan Salon
200.000
205
Pembelian Barang Dagangan
200.000
301
Hutang Dagang
500.000
303
Hutang Bank
500.000
401
Modal             
1.000.000
404
Prive                                        
300.000
501
Beban Gaji                            
100.000
503
Beban Listrik              
100.000
504
Beban Sewa
100.000
508
Beban Bunga
200.000
601
Penghasilan Penjualan
1.500.000
Jumlah
3.450.000
3.500.000
B.     Rugi/Laba
Toko Sumbar Makmur
Laporan Laba Rugi
Untuk Periode yang berakhir tanggal 30 September 2008
Pendapatan
        Pendapatan Dagang
1.000.000,00
Beban Usaha
       Biaya Sewa Gedung
100.000,00
       Biaya Gaji pegawai
100.000,00
       Biaya listrik
100.000,00
       Biaya bunga
200.000,00
Jumlah beban Usaha
500.000,00
Laba bersih
500.000,00
C.    Perubahan Modal
Salon Mutiara
Laporan Perubahan Modal
Untuk Periode yang berakhir tanggal 30 Januari 2010
Modal awal per 1 Januari 2010
1.000.000,00
Laba bersih bulan Januari  tahun  2010
500.000,00
Pengambilan prive
-300.000,00
Penambahan modal
200.000,00
Modal akhir per 30 Januari 2010
1.200.000,00
VI.   Kesulitan/Maslah
Kesulitan dalam penyusunan tugas ini yaitu kurangnya literatur yang saya dapatkan dan terbatasnya pemahaman saya tentang mata kuliah Akuntansi, oleh karena itu apabilah teman-teman pembaca menemukan kekeliruan dalam penyusunan tugas ini harap di maklumi.
readmore »»  

Tuesday, July 10, 2012

Arti Mimpiku

hari ini...q mulai memikirkan kembali mimpi itu...
dimana orang yang aku sayangi meninggalkan aku dan dunia ini////
hari ini....aku merasakan ketakutan yang terpendam....
teringat akan satu tahun lalu...
ketika seluruh keluargaku terbaring tak berdaya di sudut kamar putih itu...
mimpiku selalu menyelimutiku...apakah sebuah pertanda atau seperti bunga tidur lainnya?
ya Allah...aku belum mampu bila semua itu terjadi....
aku ingin membahagiakan dia dulu...
izinkan aku ya Allah....
readmore »»  

Thursday, June 21, 2012

Makalah Sosiologi Pertanian

BAB I   PENDAHULUAN
1.             Latar Belakang
          Pembangunan sebagai upaya sadar dan terencana dalam mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, idealnya memadukan perimbangan sosial, ekonomi dan lingkungan dalam pengambilan keputusan.
          Dengan semakin terbatasnya sumber daya alam baik dari segi kualitas maupun kuantitas maka pemanfaatan sumber daya alam tersebut harus dilakukan secara bijaksana dan terencana dengan baik sehingga dapat menjamin kelestarian lingkungan hidup. Pembangunan yang ramah lingkungan atau bisa disebut pembangunan berwawasan lingkungan sudah sepatutnya dipikirkan lebih lanjut oleh setiap komponen bangsa. Pembangunan berwawasan lingkungan merupakan upaya sadar dan berencana dalam pembangunan sekaligus pengelolaan sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan.
2.             Rumusan Masalah
1.    Bagaimana paradigma baru pembangunan pertanian ?
3.             Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui paradigma baru pembangunanpertanian.
 ( silakan clik di bawah ini untuk melanjutkan )

BAB II   KAJIAN PUSTAKA
          Konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yaitu pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memiliki kebutuhan mereka sendiri. Keseimbangan antara dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan menjadikan kunci yang harus diperhatikan dalam merumuskan kebijakan pembangunan.
          Pengertian pembangunan berwawasan lingkungan, yaitu lingkungan diperhatikan sejak mulai pembangunan itu direncanakan sampai pada waktu operasi pembangunan. Pembangunan berkelanjutan mengandung arti, lingkungan dapat mendukung pembangunan dengan terus menerus karena tidak habisnya sumber daya yang menjadi modal pembangunan.
          Pembangunan berwawasan lingkungan maknanya setara dengan pembangunan berkelanjutan, yaitu memanfaatkan sumberdaya alam dan sumber daya manusia secara optimal dengan menyelaraskan dan menyerasikan aktivitas manusia terhadap daya dukung lingkungan (Soemarwoto, 2001).
BAB III   PEMBAHASAN
A.           Paradigma Baru Pembangunan Pertanian
          Pembangunan pertanian pada masa lampau yang lebih menekankan pada pertumbuhan ekonomi, telah menimbulkan dampak negatif terhadap ketersediaan sumber daya alam dan kualitas lingkungan. Akibatnya, setelah hampir empat dasawarsa pembangunan berlangsung, kondisi pertanian nasional masih dihadapkan pada berbagai masalah, antara lain :
1.       Menurunnya kesuburan dan produktifitas lahan,
2.       Berkurangnya daya dukung lingkungan ,
3.       Meningkatnya konversi lahan pertanian produktif,
4.       Meluasnya lahan kritis,
5.       Meningkatnya pencemaran dan kerusakan lingkungan,
6.       Menurunnya nilai tukar, penghasilan dan kesejahteraan petani,
7.       Meningkatnya jumlah penduduk miskin dan pengaanguran di pedesaan,
8.       Terjadinya kesenjangan sosial di masyarakat.
          Dengan memperhatikan persoalan yang dihadapi di sektor pertanian ke depan yang semakin kompleks, baik dari aspek globalisasi ekonomi, lingkungan maupun dampak pemanasan global, maka tampaknya tidak ada pilihan lain untuk mengubah paradigma lama. Paradigma “profitabilitas” harus segera digantikan oleh paradigma “keberlanjutan”. Juga dengan paradigma “keseimbangan”.
          Sementara itu, paradigma “efisiensi lingkungan” harus lebih dikedepankan dari pada paradigma “efisiensi teknis”. Dan terakhir, paradigma “mendominasi alam” harus segera digeser ke paradigma “harmonisasi dengan alam”.
          Secara konsepsi perwujudan dari sistem pertanian yang berwawasan lingkungan dengan ciri utamanya antara lain :
1.             Perencanaan pembangunan bersifat bottom up ( melibatkan stakeholders petani, pelaku agribisnis).
2.             Program dan pelaksanaan pembangunan tidak berdasarkan batas administrasi pemerintah (Provinsi/kabupaten/kecamatan), melainkan batas agroekologi.
3.             Pewilayahan atau zonasi wilayah sasaran dalam satu kesatuan hamparan (economy of scale).
4.             Pembangunan pertanian menggunakan pendekatan sistem usaha tani.
5.             Perhatian terhadap pelestarian sumber daya alam tanah, air dan sumberdaya hayati serta keterkaitan antara daerah aliran sungai (DAS) hulu-tengah-hilir.
6.             Penerapan prinsip KISS (koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergis) antara instansi yang berwenang.
7.             Penerapan hukum secara konsekuen.
          Pembangunan pertanian berkelanjutan adalah masalah yang kompleks. Menurut Soemarwoto (1992), masalah itu timbul karena perubahan lingkungan yang menyebabkan lingkungan itu tidak atau kurang sesuai lagi untuk mendukung kehidupan manusia.
          Akibatnya adalah terganggunya kesejahteraan manusia. Masalah lingkungan berkaitan erat dengan ekonomi global, sehingga memerlukan solidaritas dan kerja sama antar bangsa. Krisis lingkungan global bersumber pada kesalahan fundamental filosofis dari etika antroposentris, yang memandang manusia sebagai pusat dari alam semesta, dan hanya manusia yang mempunyai nilai, sementara alam dan segala isinya sekadar alat bagi pemuasan kepentingan hidup manusia (Keraf, 2002).
          Cara pandang seperti ini melahirkan sikap dan perilaku eksploitatif tanpa peduli sama sekali terhadap alam dan segala isinya. Diperlukan paradigma baru interaksi manusia dengan seluruh kehidupan di bumi yang memandang alam sebagai bernilai pada dirinya sendiri dan pantas diperlakukan secara bermoral. Manusia dituntut untuk menjaga dan melindungi alam beserta isinya.
          Perubahan paradigma ini berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi, namun tidak berarti bahwa pertumbuhan ekonomi akan terganggu secara signifikan, justru kerusakan sumberdaya alam bisa dikurangi. Implementasi konsep efisiensi yang merupakan perpaduan yang efektif antara ekonomi, ekologi, dan sosial dalam penggunaan sumberdaya sangat diperlukan.
          Dengan adanya konsep strategi Agricultural-demand-led industrialization (ADLI), Proses pembangunan industri didasari atas teknologi padat karya dengan sektor pertanian sebagai sektor pemimpin yang akan menciptakan pertumbuhan seiring dengan perluasaan kesempatan kerja, peningkatan kinerja ekonomi dan pendapatan petani.
BAB IV   PENUTUP
a.             Kesimpulan
          Pembangunan pertanian pada masa lampau yang lebih menekankan pada pertumbuhan ekonomi, telah menimbulkan dampak negatif terhadap ketersediaan sumber daya alam dan kualitas lingkungan.
          Dengan memperhatikan persoalan yang dihadapi di sektor pertanian ke depan yang semakin kompleks, baik dari aspek globalisasi ekonomi, lingkungan maupun dampak pemanasan global, maka tampaknya tidak ada pilihan lain untuk mengubah paradigma lama.
          Proses pembangunan industri didasari atas teknologi padat karya dengan sektor pertanian sebagai sektor pemimpin yang akan menciptakan pertumbuhan seiring dengan perluasaan kesempatan kerja, peningkatan kinerja ekonomi dan pendapatan petani.
b.             Saran
dengan adanya makalah ini, kita dapat mengetahui paradigma baru pembangunan pertanian.
DAFTAR PUSTAKA
Arif, S. 1990. Dari Prestasi Pembangunan Sampai Ekonomi Politik: Kumpulan 
              Karangan. Universitas Indonesia, Jakarta.
    
Salim E. 1991. Pembangunan Berkelanjutan: Strategi Altematif Dalam Pembangunan Dekade Sembilan Puluhan. Prisma No. 1 Januan 1991.
Soemarwoto O. 1992. Indonesia dalam Kancah Isu Lingkungan Global. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Soemarwoto O. 2001. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah MadaUniversity Press.
Sutamihardja RTM, T. Murniwati.2005. Perubahan Lingkungan Global; global environmental change. Jakarta : Elsas.
readmore »»  

Wednesday, June 13, 2012

Penyuluh Pertanian

PENERAPAN TEKNOLOGI PERTANIAN



Penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.
Membangun sistem Penyuluhan Penerapan Teknologi Pertanian ( Holtikultura ) yang berhasil dan berdayaguna tidak dapat dilepaspisahkan dari dinamika kerja partisipatif antara penyuluh sebagai agen pembaharu informasi, adopsi, inovasi, teknologi dan pelaku utama yang dihimpunkan dalam kelompok tani, Kegiatan Penyuluhan Penerapan Teknologi Pertanian Modern (Holtikultura) dapat terwujud dengan mitra kerja didalam menjalankan peran, tugas dan fungsi secara memadai.
Desa Waiheru, sebagai salah satu desa yang berada di kota Ambon memiliki karakteristik dan luas lahan yang begitu sempit dan diperlukan adanya alih teknologi, sehingga kondisi lahan tersebut dapat dimanfaatkan seefisien mungkin oleh para petani pengarap guna memenuhi kebutuhan pasar dan peningkatan kesejahteraannya. Pengembangan komoditas holtikultura di desa waiheru merupakan salah satu program pengembangan ekonomi pertanian untuk mengatasi kelangkaan komoditas di pasar local. Untuk mewujudkan rencana dan program yang demikian dibutuhkan dukungan sumber dana, SDM dan pembinaan yang ditujukan pada manejemen usaha, pengelolahan lahan, efisiensi dan efektivitas berusaha dan bantuan teknologi serta evaluasi dan monitoring instansi terkait.
Sejalan dengan itu maka sebagai implikasinya diperlukan suatu metode penyuluhan dan penerapan teknologi secara modern pada kegiatan holtikultura sehingga kedepan para petani dalam mengelola usaha taninya dapat mengerti teknologi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat tani dan pelaku usaha.
Dengan terwujudnya kegiatan ini maka akan menghasilkan output yang sangat baik dan berguna bagi pelaku utama guna memanfaatkan sekaligus meningkatkan hasil produksinya dengan penerapan teknologi pertanian modern ( Holtikultur ) di Kota Ambon.
Untuk itu peran penyuluh pertanian sebagai Penyuluh Pendamping adalah sangat penting dan diperlukan sebagai pembimbing petani juga sebagai penghubung antar petani dan pemerintah, maka Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Provinsi Maluku melalui kegiatan penyuluhan dan pendampingan dengan pola Penerapan Teknologi Pertanian Modern ( Holtikultura ) di Kecamatan Baguala dimana tujuannya untuk melanjutkan dan mengembangkan usaha pertanian dalam pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat tani mandiri dan maju serta menciptakan pengembangan ekonomi kerakyatan di kecamatan Baguala
Dengan terwujudnya kegiatan ini diharapkan :
  • Terselenggaranya program penyuluhan penerapan teknologi pertanian modern ( Holtikultura ) bagi pelaku utama atau kelompok tani ( Poktan ) di desa Waiheru kecamatan Baguala Kota Ambon.
  • Tercapainya Penyaluran informasi pengunaan teknologi pertanian modern ( Holtikultura ) yang berhasil dan berdaya guna dalam meningkatkan produktivitas usaha pertanian.
  • Merubah pola pikir pelaku utama yang tadinya masih menerapkan teknologi pertanian tradisional untuk mempergunakan teknologi pertanian modern guna peningkatan produksi dan kesejahteraan pelaku utama itu sendiri.
  • Mengupayakan Pelaku utama agar mampu mengelola system penerapan teknologi pertanian modern ( Holtikultura ) secara baik,terencana dan berhasilguna.
readmore »»  

Thursday, May 24, 2012

Pertanian Organik

ORGANIK DALAM ERA PERTANIAN MODERN

 Impian petani dan pendukung kaum tani di dalam melepaskan diri dari jeratan teknologi kapitalis tampak akan terpenuhi dengan mulai maraknya praktik pertanian dengan input produksi organik.
Di tengah optimisme dan semangat mewujudkan impian tersebut, kekhawatran muncul bahwa mimpi tersebut akan tetap menjadi mimpi ketika terlalu besar harapan, yang kemudian memunculkan mitos.
Tanpa perhatian yang penuh, mitos ini akan menisbikan program bantuan pemerintah kepada petani, khususnya ketika pasar tidak melihat upaya ini sesuatu yang pantas mendapat premi.
Departemen Pertanian Amerika Serikat pada 1977 mendefinisikan pertanian organik sebagai sebuah sistem manajemen produksi berbasis agroekologi yang memacu dan mendorong keanekaragaman hayati, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah.
Praktiknya adalah penggunaan input luar-lahan minimal dan upaya memperkaya, mempertahankan, serta meningkatkan keharmonisan ekologi. Menurut Organisasi Pangan Dunia (FAO), tujuan utamanya adalah mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas dari komunitas yang saling berketergantungan antara kehidupan dalam tanah, hewan, dan manusia.
Klaim atau doktrin yang banyak dianut oleh pelaku paham pertanian organik adalah bahwa organik lebih sehat daripada input kimia seolah ingin memanfaatkan momentum prevalensi pasar yang menuntut bahan makanan yang tidak mengandung unsur-unsur pemicu penyakit serius.
Dalam beberapa tahun terakhir pikiran konsumen secara sukarela dibawa oleh doktrin tersebut walaupun ada banyak kejanggalan dalam logika berpikir para penganut aliran pertanian organik.
Bukti sukses
Sebuah penelitian jangka panjang di Universitas Cornell memberikan gambaran menakjubkan tentang hasil pengamatan selama 22 tahun. Dibuktikan bahwa secara keseluruhan produksi jagung dan kedelai dari perlakuan pertanian organik relatif sama dengan pertanian konvensional yang menggunakan pupuk kimia buatan.
Keuntungannya adalah bahwa pertanian organik menghemat konsumsi energi (bahan bakar minyak) sebesar 30 persen, menahan air lebih lama di musim kering dan tidak memerlukan pestisida. Namun, hasil yang diperoleh pada empat tahun pertama produksinya 33 persen lebih rendah daripada perlakuan konvensional.
Setelah bahan organik terkumpul di dalam tanah, sejak tahun kelima produksinya mulai sama atau lebih tinggi daripada konvensional, terutama karena lebih tahan selama musim kering.
Dilaporkan pula bahwa pertanian organik mampu menyerap dan menahan karbon ( C ) sehingga sangat bermanfaat dalam mitigasi pemanasan global. Kandungan bahan organik tanah naik 15-28 persen yang setara dengan 1.500 kilogram CO2 dari udara.
Walaupun biaya produksi pada sistem pertanian organik 15 persen lebih tinggi daripada konvensional, dengan harga yang cukup baik pada tanaman sereal kenaikan ini tidak terlalu menjadi masalah. Sebaliknya, sistem pertanian organik tidak mampu memberikan keuntungan untuk tanaman anggur, apel, ceri, dan umbi-umbian.
Beberapa keberhasilan sejenis juga dilaporkan di Afrika, India, dan China. Namun, hasil-hasil tersebut masih menimbulkan pro dan kontra, terutama dari para ahli ilmu tanah yang tidak bisa menerima alasan bahwa hal tersebut semata-mata akibat organik versus kimia.
Mitos pertanian organik
Keberhasilan input organik dengan menggeser peran input kimia sebagai sebuah monumen inovasi dari Revolusi Hijau 60 tahun yang lalu semula dipandang sebelah mata oleh para ilmuwan ilmu tanah yang memahami dengan baik hubungan tanah dengan tanaman.
Namun, ketika gejala yang berkembang, khususnya di Amerika Serikat, makin mengkhawatirkan, beberaa pendapat mulai bermunculan. Salah satunya adalah yang diuraikan oleh Throckmorton (2007), seorang dekan dari Kansas Sate College.
Keberatannya terhadap doktrin pertanian organik adalah bahwa tidak mungkin peran pupuk kimia digantikan sepenuhnya oleh pupuk organik. Pertama, jika hal itu mungkin, dunia akan kekurangan biomassa untuk produksi pupuk organik karena dosisnya luar biasa besar.
Kedua, tanaman tidak hanya ditentukan oleh humus saja, tetapi oleh faktor-faktor lain seperti bahan organik aktif, nutrisi mineral tersedia, aktivitas mikroba tanah, aktivitas kimia dalam larutan tanah, dan kondisi fisik tanah.
Bahan organik tanah memang sering disebut sebagai “nyawa dari tanah” sebagai ekspresi dari perannya mendukung aktivitas mikroba tanah. Peran lain dari bahan ini memang diakui penting, tetapi bukan satu-satunya dalam pelarutan hara, pembenah tanah, dan kapasitas menahan air.
Fakta lain adalah bahwa bahan organik mengandung nutrisi tanaman sangat kecil. Klaim bahwa nutrisi asal bahan organik (kompos, pupuk organik) lebih “alami” dibandingkan asal pupuk kimia sangat tidak masuk akal, apalagi dihubungkan dengan kesehatan manusia.
Bukti empiris menunjukkan bahwa pada tanah organik (kadar bahan organik sangat tinggi) percobaan gandum, kentang, dan kubis di Amerika Serikat pada yang dipupuk kimia buatan mencapai 5 – 54 kali lebih besar daripada yang tidak dipupuk kimia. Satu bukti lain bahwa organik bukan satu-satunya unsur utama dalam produksi tanaman adalah sistem hidroponik.
Kebijakan pemerintah, seperti Go Organic 2010, penerbitan SNI Sistem Pangan organik (01-6729-2002), dan subsidi pupuk organik merupakan langkah-langkah kongkret yang perlu diawasi implementasinya. Di samping itu, pertimbangan yang mendalam perlu dilakukan dengan memerhatikan dampak krisis keuangan 2008.
Daya beli masyarakat menurun, seperti yang dilaporkan di Inggeris, berdampak stagnasi pada pertumbuhan produk pertanian organik pada tingkat 2 persen. Konsumen yang mengutamakan rupa daripada rasa juga tidak mudah berubah ke produk organik.
Di sisi lain, kemampuan produksi input organik untuk menopang produktivitas pangan yang dibutuhkan jauh dari memadai akibat keterbatasan dan terpencarnya bahan baku. Untuk itu, mitos-mitos yang terkait dengan produk organik harus dihapus dan diberikan pemahaman yang benar kepada petani.
Kombinasi optimal antara input anorganik dan organik akan mampu memenuhi persyaratanberbagai pihak, baik teknis, ekonomi, lingkungan, maupun kesehatan konsumen.
readmore »»  

Thursday, May 17, 2012

Contoh Makalah Daftar Isi

KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum Wr.Wb
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karuniaNya lah sehingga tugas pembuatan makalah  ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Tak lupa saya mengucapkan banyak terimah kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan masukan yang sangat berharga selain itu saya juga mengucapkan banyak terima kasih pada teman – teman yang telah banyak membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Saya sadar bahwa makalah ini belum sepenuhnya sempurna, oleh sebab itu saran dan kritikan yang sifatnya membangun sangat saya harapkan dalam perbaikan makalah selanjutnya. Akhir kata saya ucapkan
Wassalam
                                                                                                             Palopo, 27  Juni 2011

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR....................................................................................................... i 
DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN                                                                                                 1
a.       Latar Belakang...................................................................................................... 1
b.      Perumusan Masalah............................................................................................... 1
c.       Kegunaan............................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN                                                                                                  2
a.       Ikatan Ion.............................................................................................................. 2
b.      Bentuk Molekul..................................................................................................... 4
c.       Resonasi Dalam Struktur Lewis............................................................................ 8
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN                                                                         9
a.      Kesimpulan......................................................................................................... 12
b.      Saran................................................................................................................... 12
readmore »»