Wednesday, September 26, 2012

Kisah Heroik Tukang Kredit Alat Dapur Naik Haji


HIDUP adalah sebuah perjuangan. Hidup bukan hanya melakukan sesuatu tanpa makna, namun untuk mencapai cita-cita yang diinginkan. Dan Bagi umat Islam, haji adalah cita-cita dan nilai dari kesempurnaan ibadah sebagai pelaksanaan rukun Islam yang kelima.

Banyak perjuangan, tanpa lelah dan letih dilakukan masyarakat Indonesia untuk menunaikan ibadah haji. Sebagian dari mereka harus melewati perjuangan, mengorbankan waktu, tenaga serta harus menabung uang sedikit demi sedkit dari hasil usaha yang terbilang sederhana.

Dua jamaah haji asal Indonesia dari kloter Solo 1 asal Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, merasakan perjuangan yang luar biasa. Dua jamaah kakak beradik ini bernama Tumpu Harto Wiyono 63 tahun dan Rubingah Yoto Raharjo 55 tahun yang pergi haji dengan perjuangan sebagai "Mindring" tukang kredit dan penjual kelontongan alat-alat dapur. Tidak tanggung-tanggung mereka harus berkerja dan mengumpulkan uang lebih dari 15 tahun dari sisa keuntungan usaha.

Sejauh ini, mereka berdua tinggal di pemodokan haji Al Marsa Hotel di sekitar Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. Mereka berdua, menempati ruangan yang harus berhimpitan dengan ukuran 4x4 dengan kapasitas lima orang. Bersama teman sekamarnya Hidayah, Tukiyem dan Sri Wahyuni, adik kakak ini merasa bahagia dan senang dapat menjalankan ziarah ke masjid Nabawi dan menunaikan ibadah haji.

Ibu Tumpu Harto Wiyono menyatakan bergembira atas apa yang dicapai saat ini. "Ini panggilan Allah melalui perjuangan yang panjang, saya  jual alat-alat dapur bersama adik," imbuhnya.

Ibu Tumpu menuturkan dulu saya pergi ke desa-desa jual berbagai macam alat rumah dan berniat dari bathin untuk pergi haji.

"Ada ompreng, ada batu, pasir, ada sandang-sandang (baju) niko, dandang, kursi segalapun san anu dapat saya berikan. Uangnya hendak bulan, minggu, nda 10 hari, sepasar. Uang saya tidak hitung saya kumpulkan uang, 5 ribu, 10 ribu, seiket saya simpan di rumah, saya niat, ning kulo bathin bothenan klewer iki (tapi saya mengira nggak bakalan bisa ikut)," ucap ibu Tumpu dengan khas bahasa jawanya

Disisi lain, adiknya ibu Rubingah Yoto Raharjo menuturkan, lebih dari 10 tahun dirinya berkerja menjual alat-alat dapur. "Saya keliling menjual alat-alat dapur lebih dari 10 desa, dengan berjalan kaki setiap harinya," lirihnya.

Dirinya hanya berharap agar dalam pelaksanaan ibadah haji kali ini diberikan kemudahan dan kelancaran. "Saya berharap diberikan kesehatan, panjang umur dan menjadi haji yang mabrur" harapnya dengan mata-mata yang berkaca-kaca.

Meski dibilang sederhana kata sebuah "Haji", namun di balik itu orang yang akan meraihnya butuh keikhlasan dan perjuangan. Yang dapat kita petik dari pelajaran ini, bulatkanlah tekad dan berjuangalah. Karena Al